BARRU, Matajurnalisnews.com – Masyarakat Bugis memiliki beragam tradisi dan kearifan lokal yang masih dipertahankan hingga saat ini. Salah satunya adalah tradisi Manre Apang atau makan kue apang bersama yang dilaksanakan setiap pertengahan bulan suci Ramadan.
Tradisi turun-temurun ini masih dikenal di sejumlah wilayah masyarakat Bugis, khususnya di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.
Manre Apang biasanya dilaksanakan pada malam ke-16 Ramadan, setelah umat Islam melewati 15 hari pertama menjalankan ibadah puasa. Tradisi tersebut menjadi penanda bahwa Ramadan telah memasuki pertengahan bulan.
Bukan sekadar kegiatan makan bersama, Manre Apang memiliki nilai budaya, spiritual, dan sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam pelaksanaannya, masyarakat biasanya menyiapkan kue apang sebagai hidangan utama. Kue tradisional berbahan dasar tepung beras atau tepung terigu, gula merah, dan bahan lainnya tersebut memiliki cita rasa manis serta tekstur lembut.
Sebelum disantap bersama, masyarakat terlebih dahulu melaksanakan doa bersama atau dikenal dengan istilah mabbaca-baca.
Doa tersebut biasanya dipimpin oleh imam kampung atau tokoh agama setempat. Tujuannya sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas kesempatan menjalani ibadah Ramadan, sekaligus memohon keselamatan, kesehatan, keberkahan, dan ketenteraman dalam kehidupan.
Setelah doa selesai, kue apang kemudian disantap bersama anggota keluarga maupun masyarakat yang hadir.
Secara historis, kue apang telah lama dikenal dalam kehidupan masyarakat Bugis dan menjadi salah satu hidangan penting dalam berbagai kegiatan adat maupun ritual tradisional.
Kue apang mulai semakin dikenal luas dalam berbagai ritual sakral masyarakat Bugis sekitar tahun 1960-an. Namun, akar tradisi dan penggunaan kue tersebut dalam kehidupan adat masyarakat diperkirakan telah berlangsung jauh sebelumnya.
Keberadaan tradisi Manre Apang memperlihatkan bagaimana masyarakat Bugis memadukan nilai-nilai keagamaan dengan kearifan lokal yang diwariskan oleh leluhur.
Tradisi ini juga menjadi ruang mempererat hubungan kekeluargaan dan silaturahmi antar warga.
Di tengah perkembangan zaman, Manre Apang menjadi pengingat bahwa warisan budaya tidak hanya berupa benda atau kesenian, tetapi juga kebiasaan masyarakat yang mengandung nilai kebersamaan, rasa syukur, dan penghormatan terhadap tradisi leluhur.
Karena itu, pelestarian tradisi Manre Apang menjadi bagian penting dalam menjaga identitas budaya masyarakat Bugis agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi muda.
Bagi masyarakat Bugis, Manre Apang bukan sekadar menyantap kue tradisional di pertengahan Ramadan. Lebih dari itu, tradisi ini merupakan simbol kebersamaan, doa, rasa syukur, serta penghormatan terhadap warisan budaya leluhur.
Wartawan: Aisyah, Editor: Aisyah











