Makassar โ Kapolsek Panakkukang, AKP Aris Satrio Sujatmiko, tegaskan tudingan dugaan salah tangkap terhadap seorang pria bernama Ibrahim tidaklah benar.
Hal itu disampai AKP Aris saat di jumpai sejumlah awak media di Mako Polsek Panakukang, Makassar Sulsel pada Jumat (11/7).
Dugaan ini mencuat setelah Ibrahim disebut-sebut terlibat dalam aksi tawuran di wilayah Pampang pada April 2025.
“Proses penangkapan Ibrahim telah melalui dua kali gelar perkara bersama penyidik dan Kanit Reskrim. ” Ujarnya.
Hasilnya, kata dia, terdapat cukup bukti untuk menahan Ibrahim.
โSudah dua kali kami gelar perkara bersama penyidik dan Kanit Reskrim. Berdasarkan hasilnya, Ibrahim cukup bukti, sehingga dilakukan penahanan,โ jelas Aris.
Iya juga menambahkan bahwa pihaknya telah melakukan pengecekan ulang terhadap informasi bahwa Ibrahim tidak berada di lokasi kejadian. Namun, menurutnya, bukti yang ada menunjukkan sebaliknya.
Sedangkan Pihak Keluarga Membantah dan Merasa Ibrahim Jadi Korban Salah Tangkap
Sebelumnya, keluarga Ibrahim melayangkan protes keras terhadap penangkapan yang dilakukan oleh Tim Resmob Polsek Panakkukang.
Mereka menyatakan bahwa Ibrahim tidak berada di Makassar saat peristiwa tawuran terjadi.
โKami keberatan, karena adik saya tidak ada di Makassar saat itu. Dia sedang berada di Morowali untuk bekerja,โ kata Ardianto, kakak kandung Ibrahim.
Iya juga mengungkapkan bahwa terdapat bukti pesan WhatsApp antara Ibrahim dan orang tua mereka, yang menunjukkan keberadaan Ibrahim di Morowali saat tawuran terjadi.
โMasih ada chat orang tua kami yang minta bantuan uang kepada Ibrahim saat dia di Morowali,โ terangnya.
Proses Penangkapan Dipertanyakan
Keluarga Ibrahim juga menyoroti proses penangkapan yang dinilai tidak sesuai prosedur. Menurut Ardianto, pihak kepolisian datang tanpa menunjukkan surat perintah dan langsung membawa adiknya.
โMereka datang tanpa surat, masuk tanpa izin, dan langsung menangkap adik saya. Ketika kami tanya, mereka hanya menjawab โnanti dijelaskan di Polsekโ,โ ungkapnya.
Lebih lanjut, keluarga menyebut bahwa Ibrahim dipaksa mengakui keterlibatannya dalam aksi tawuran, bahkan disuruh memegang busur panah yang bukan miliknya.
โPak Kanit menyuruh adik saya memegang busur dan mengaku itu miliknya. Padahal dia tidak tahu-menahu soal itu,โ beber Ardianto.
Dugaan Penganiayaan dan Tuntutan Keadilan
Keluarga juga mengaku menemukan luka lebam di tubuh Ibrahim, terutama pada bagian kaki. Mereka menduga luka tersebut akibat penganiayaan oleh oknum polisi agar Ibrahim mau mengaku.
โAda bengkak di kakinya. Kami yakin itu akibat dipukul agar dia mengaku,โ kata Ardianto.
Ibu Ibrahim, Hasna (59), mengaku sangat terpukul melihat kondisi anaknya. Ia berharap keadilan bisa ditegakkan dan Ibrahim dibebaskan.
โAnak saya tidak pernah ikut tawuran. Dia ditangkap, dipukul, dipaksa ngaku. Kasihan anakku. Saya cuma minta keadilan,โ tutur Hasna dengan mata berkaca-kaca.
Akan Dilaporkan ke Propam Polda Sulsel
Keluarga menyatakan akan melaporkan kejadian ini ke Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Sulawesi Selatan guna mendapatkan keadilan atas dugaan salah tangkap dan kekerasan yang dialami Ibrahim.















