MAKASSAR, Matajurnalisnews.com – Krisis legitimasi moral yang melanda institusi Kepolisian di Makassar memicu reaksi keras dari gerakan mahasiswa. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kota Makassar yang tergabung dalam koalisi Cipayung Plus menuntut reformasi total di tubuh Polrestabes Makassar pasca-insiden berdarah yang melibatkan personel di wilayah hukum Panakkukang.
Ketua Umum PC PMII Kota Makassar sekaligus Jenderal Lapangan, Hariandi, menegaskan bahwa penembakan yang menewaskan warga sipil bukan lagi sekadar tindakan oknum.
“Tragedi yang menimpa saudara kami, Bertrand Eka Prasetyo Radiman, adalah puncak dari brutalitas yang tak termaafkan. Negara tidak boleh memelihara algojo berpakaian dinas!” tegasnya.
Ketua 2 PC PMII Kota Makassar sekaligus Mimbar Lapangan, Ahmad Rifai, menuntut transparansi penuh atas proses hukum terhadap tersangka Iptu Dr. Nasrullah yang merupakan perwira di Polsek Panakkukang. “Hukum tidak boleh tajam ke bawah tapi tumpul ke kawan sendiri. Meski pelaku merupakan pejabat kepolisian, proses hukum harus dilakukan secara terbuka di mata publik,” ujar Rifai.
Lima Poin Tuntutan Utama PC PMII Makassar & Cipayung Plus:

- Copot Kapolrestabes Makassar & Kapolsek Panakkukang: Menuntut tanggung jawab pimpinan atas gagalnya pengawasan internal yang berujung pada hilangnya nyawa warga sipil.
- Transparansi Hukum Iptu Dr. Nasrullah: Memastikan proses hukum berjalan tanpa intervensi dan keistimewaan bagi tersangka.
- Adili Pelaku Tanpa Pandang Bulu: Menolak sanksi etik ringan dan menuntut hukuman pidana maksimal bagi pelaku kekerasan di lapangan.
- Bebaskan Aktivis & Hentikan Kriminalisasi: Mendesak pembebasan rekan-rekan mahasiswa yang ditahan di Polda Sulsel saat menyuarakan kritik dan aspirasi.
- Stop Pembungkaman Media: Menghentikan segala bentuk intimidasi terhadap jurnalis yang meliput fakta di lapangan demi menjaga kebebasan pers.
PC PMII Makassar menegaskan akan melumpuhkan jalanan kota jika tuntutan ini diabaikan oleh pimpinan Polri di Sulawesi Selatan.
“Kami tidak akan membiarkan satu tetes darah pun tumpah tanpa ada keadilan yang tegak. Jalanan Makassar akan tetap membara hingga kebenaran menemukan takdirnya,” tutup Hariandi.












