MAROS, Matajurnalisnews.com – Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) Universitas Muslim Indonesia (UMI) yang tergabung dalam Tim EduMate melaksanakan program pendampingan guru di Madrasah Tsanawiyah Pondok Pesantren YADI Maros, Sulawesi Selatan, dalam pengembangan perangkat ajar Kurikulum Merdeka berbasis kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI).
Tim EduMate merupakan tim kolaboratif mahasiswa Universitas Muslim Indonesia yang terdiri atas Aisyah Nurqalbi selaku ketua tim, Rahmawati dan Putri Adelia dari Fakultas Ilmu Komputer (FIKOM) UMI, serta Aulia Azzahrah dari Fakultas Agama Islam UMI. Kolaborasi lintas fakultas ini berada di bawah bimbingan Ir. St. Hajrah Mansyur, S.Kom., M.Cs., MTA, Dosen Program Studi Sistem Informasi FIKOM UMI.
Program bertajuk “Pendampingan Guru Madrasah Tsanawiyah Pondok Pesantren Yadi Maros dalam Pengembangan Perangkat Ajar Kurikulum Merdeka Berbasis Kecerdasan Artifisial” ini selaras dengan PKM Tematik 2026 Tema Keenam, yaitu Penguatan Pendidikan, Sains, dan Teknologi.
Pelaksanaan program ini mendapat dukungan pendanaan dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemdiktisaintek Republik Indonesia serta bantuan dana dari Universitas Muslim Indonesia. Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam menunjang rangkaian kegiatan pemberdayaan, pelatihan, pendampingan, pengembangan perangkat ajar, serta penyediaan berbagai sumber belajar yang dibutuhkan selama pelaksanaan program bersama mitra.
Pelaksanaan kegiatan PKM-PM berlangsung mulai 15 Mei hingga 26 Agustus 2026. Hingga periode tersebut, lima tahapan pemberdayaan utama telah terlaksana dengan hasil yang mencakup keterlaksanaan kegiatan, peningkatan kompetensi mitra, serta berbagai produk pembelajaran yang dihasilkan bersama guru.
Program ini diarahkan untuk meningkatkan kemampuan dan kemandirian guru dalam menyusun serta mengembangkan perangkat ajar Kurikulum Merdeka dengan memanfaatkan AI dan berbagai teknologi digital secara tepat, kontekstual, dan bertanggung jawab.
MTs Pondok Pesantren YADI Maros memiliki 184 peserta didik dan 15 guru dengan pembelajaran yang memadukan mata pelajaran umum, keagamaan, serta muatan lokal pesantren. Kondisi tersebut membutuhkan perangkat ajar yang sistematis, kontekstual, serta sesuai dengan karakteristik peserta didik dan lingkungan pesantren.
Hasil identifikasi awal Tim EduMate menunjukkan bahwa dari 16 mata pelajaran, baru enam mata pelajaran yang memiliki perangkat ajar, sedangkan 10 mata pelajaran lainnya belum memiliki perangkat ajar yang tersusun secara sistematis.
Selain itu, sebanyak 93,3 persen guru belum pernah menggunakan AI, 86,7 persen belum menggunakan LMS/Google Classroom, dan 80 persen belum mampu menyusun perangkat ajar secara mandiri. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan mitra tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan perangkat ajar, tetapi juga penguatan literasi digital dan kemampuan pedagogik berbasis teknologi.
Dosen pendamping Tim EduMate, Ir. St. Hajrah Mansyur, S.Kom., M.Cs., MTA, menegaskan bahwa program ini tidak dimaksudkan untuk mengambil alih tugas profesional guru dalam menyusun perangkat pembelajaran, tetapi untuk meningkatkan kapasitas dan kemandirian mereka.
“Pelaksanaan kegiatan PKM-PM Tim EduMate hadir bukan untuk membuatkan perangkat ajar bagi guru, tetapi mendampingi guru agar mampu mengembangkan sendiri perangkat ajar sesuai dengan mata pelajaran yang diampu dengan memanfaatkan teknologi digital, termasuk AI, secara tepat. Dengan demikian, teknologi dapat membantu guru mengoptimalkan proses pembelajaran di MTs YADI Maros tanpa menggantikan peran profesional guru sebagai pendidik,” ujar Hajrah kepada wartawan.
Rangkaian program dikembangkan melalui pendekatan pemberdayaan yang berkesinambungan, mulai dari pemetaan kebutuhan guru, penguatan kompetensi teknologi digital, pengembangan perangkat ajar, pendampingan penyempurnaan, hingga implementasi dan evaluasi.
Pada tahap Teacher Mapping, Tim EduMate melakukan observasi, diskusi bersama kepala madrasah dan guru, identifikasi kebutuhan, serta pre-test untuk memperoleh gambaran awal kemampuan dan kesiapan guru.
Hasil pemetaan tersebut menjadi dasar dalam menentukan bentuk intervensi dan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan nyata mitra.
Tahap berikutnya, SmartGuru Lab, diarahkan pada penguatan literasi AI dan teknologi pembelajaran. Guru mendapatkan pelatihan penggunaan ChatGPT dan teknik penyusunan prompt, Quizizz, Canva, LMS/Google Classroom, serta berbagai media pembelajaran digital.
Kegiatan dilakukan melalui demonstrasi, praktik langsung, dan pendampingan sehingga guru tidak hanya mengenal fungsi teknologi, tetapi juga mampu menggunakannya untuk mendukung proses perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran.
Melalui EduDesign Lab, guru mulai mengembangkan perangkat ajar Kurikulum Merdeka sesuai mata pelajaran yang diampu. Pendampingan mencakup penyusunan tujuan pembelajaran, materi, aktivitas pembelajaran, LKPD, media, asesmen, hingga penyesuaian perangkat dengan karakteristik peserta didik dan konteks pesantren.
Perangkat ajar yang telah dikembangkan kemudian memasuki tahap Teaching Clinic untuk ditelaah, direvisi, dan disempurnakan melalui pendampingan individu maupun kelompok. Telaah mencakup kesesuaian tujuan pembelajaran, materi, aktivitas, asesmen, media, konteks pesantren, hingga ketepatan pemanfaatan AI.
Pendampingan tersebut dilakukan agar perangkat ajar yang dihasilkan tidak hanya memenuhi aspek administratif, tetapi juga benar-benar aplikatif dalam proses pembelajaran.
Selanjutnya, melalui MicroTeach Lab, guru mendapatkan kesempatan untuk mengimplementasikan perangkat ajar dalam bentuk simulasi atau microteaching. Guru mempraktikkan perangkat yang telah disusun, memperoleh umpan balik, kemudian melakukan penyempurnaan berdasarkan hasil implementasi.
Rangkaian program selanjutnya diperkuat melalui EduSustain sebagai tahap diseminasi dan keberlanjutan agar perangkat ajar, Buku Pedoman Mitra, bank prompt, serta sumber belajar digital yang dihasilkan dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan oleh guru secara mandiri.
Rangkaian pelatihan dan pendampingan menunjukkan perubahan positif terhadap kemampuan dan kesiapan guru.
Berdasarkan hasil evaluasi, rata-rata kompetensi dan kesiapan guru meningkat dari 2,25 pada pre-test dengan kategori rendah menjadi 4,03 pada post-test dengan kategori tinggi.
Evaluasi terhadap pelaksanaan program juga memperoleh rata-rata 4,18 dari skala 5,00, dengan 92,6 persen respons guru berada pada kategori setuju dan sangat setuju.
Peningkatan terjadi pada seluruh aspek yang diukur. Kemampuan terkait Kurikulum Merdeka dan perangkat ajar meningkat dari 2,84 menjadi 4,05, sementara literasi AI untuk pembelajaran meningkat dari 1,83 menjadi 4,11.
Kemampuan penggunaan teknologi dan media digital meningkat dari 2,23 menjadi 4,00, sedangkan kemampuan penyusunan dan penyempurnaan perangkat ajar meningkat dari 1,91 menjadi 3,92.
Pada aspek implementasi, simulasi dan evaluasi, skor meningkat dari 2,36 menjadi 3,96, sementara aspek kemandirian dan keberlanjutan meningkat dari 2,49 menjadi 4,20.
Peningkatan paling menonjol terjadi pada aspek literasi AI dan kemampuan penyusunan perangkat ajar, yang sejak awal menjadi bagian dari permasalahan utama mitra.
Melalui proses pendampingan tersebut, guru MTs YADI Maros bersama Tim EduMate telah menghasilkan 10 perangkat ajar Kurikulum Merdeka berbasis AI. Capaian ini menjadi salah satu hasil utama program karena perangkat ajar dikembangkan langsung oleh guru sesuai mata pelajaran yang diampu melalui proses pelatihan, praktik, pendampingan, revisi, dan simulasi pembelajaran.
Program juga menghasilkan Buku Pedoman Mitra dan bank prompt yang disiapkan sebagai sumber belajar bagi guru dalam mengembangkan perangkat pembelajaran secara lebih mandiri.
Untuk memperkuat pemanfaatan teknologi digital, Tim EduMate turut menyiapkan tiga video tutorial, yaitu penggunaan prompt ChatGPT dalam pembuatan perangkat ajar, tutorial mendesain bahan presentasi dan poster menggunakan Canva, serta tutorial media pembelajaran interaktif menggunakan Quizizz.
Materi tersebut dirancang agar dapat digunakan kembali oleh guru sebagai sumber belajar setelah rangkaian PKM-PM selesai.
Secara keseluruhan, pelaksanaan PKM-PM telah mencakup 20 kegiatan dengan melibatkan 15 guru MTs YADI Maros. Kegiatan tersebut meliputi pemetaan kebutuhan, pelatihan AI dan teknologi digital, workshop pengembangan perangkat ajar, klinik pendampingan dan revisi, microteaching, monitoring dan evaluasi, hingga penguatan keberlanjutan program.
Melalui kegiatan ini, Tim EduMate UMI berharap pemanfaatan AI di lingkungan madrasah tidak berhenti pada pengenalan teknologi, tetapi benar-benar menjadi bagian dari peningkatan kompetensi guru dalam merancang pembelajaran yang lebih kreatif, kontekstual, adaptif, dan berpusat pada peserta didik.
Program PKM-PM ini sekaligus menunjukkan peran mahasiswa dalam menghadirkan ilmu pengetahuan dan teknologi perguruan tinggi untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
Melalui pendekatan pendampingan, guru tetap ditempatkan sebagai aktor utama pembelajaran dan didorong untuk semakin mandiri dalam mengembangkan perangkat ajar serta memanfaatkan teknologi digital secara tepat untuk mengoptimalkan kualitas pembelajaran di MTs Pondok Pesantren YADI Maros.
Wartawan: Aisyah, Editor: Aisyah











